only for you

February 7th, 2009 by uzan

for you, i will be waiting

i will not let anything else interfere

i will close my eyes

this fifty-fifty chance is worth to wait

i will be the first one in the queue

as you open the door, i will be the first face you will see

i know nothing is certain

i know the risk

but i also know the chance that i have

and until that day, for you, i will…

pindah rumah ah…

December 31st, 2007 by uzan

now u can check out my thoughts, my opinion, my hope and my dream on:
fauzanarafat.wordpress.com
c u there…!!!

malam 21

October 5th, 2007 by uzan

Ngejar tarawihan di rumah rasanya sudah
tak mungkin. 5 menit lagi adzan Isya akan berkumandang, sementara aku masih
ngurus reimbursement Apotek Raya
dengan Pak Dedi. Ya sudah lah, aku Isya plus tarawih di masjid dekat sini saja.
Lantai masjidnya yang berbahan kayu—persis seperti lantai masjid Salman—malah seolah
mengingatkanku akan ghirah
”fastabiqul khairat”, alias semangat berlomba-lomba pedekate ke Allah, yang aku dan sahabat-sahabat terbaikku kala
kuliah dulu pernah miliki……duh, ”semangat”
yang kini tak nampak lagi batang hidungnya.

Padahal ini adalah malam
pertama di sepuluh hari terakhir Ramadhan keempatku.
Malam dimana peluang terjadinya Lailatul
Qadar
cukuplah besar: 10% pren…alias 1 banding 10!!! Aku tak ingin lagi
kecewa—kecewa karena detik demi detik Ramadhan kali ini banyak kusia-siakan…aku
harus tarawih!

Punten nya Pak Dedi, saya tarawih dulu, ntar qta terusin lagi
ngurus reimbursementnya…”

Sudah kuduga, imam shalatnya pastilah
”anak itu”. Kutaksir belum genap 30 tahun usianya. Tapi mengapa setiap kali aku
shalat disini selalu dia yang memimpin shalat berjamaah, padahal banyak
bapak-bapak yang lebih senior dan usianya jauh lebih tua.

”Lagu bacaannya memang
bagus—quite easy listening, teknik bacaannya pun sudah terwarnai oleh kaidah-kaidah
tahsin namun masih banyak yang harus diperbaiki. Ah, masih bagusan saya tahsinnya!” cibirku dalam hati.

Selesai shalat Isya aku lebih
terkejut lagi: ”anak itu” yang naik mimbar! Kecemburuan ga jelas yang tiba-tiba merasuki diriku mulai menjalar ke seluruh
tubuh. Duduk jadi tak nyaman, jemariku mulai bermain-main dengan Motorola-nya, gumaman
iri-dengki berkecamuk dalam hati: ”Apa hebatnya sih anak itu?!”

Entah mengapa kedua telingaku berontak
sendiri, ternyata mereka sudi mencuri dengar isi ceramah ”anak itu”……
”Hisablah dirimu sendiri sebelum hari dimana Allah yang Menghisabmu! Hisablah
dengan perhitungan sederhana saja, karena perhitungan Allah pun sederhana.
Sesederhana perhitungan matematis, 1+1=2 atau 2-1=1. Jika pagi ini engkau
shalat shubuh berjamaah, khusyu pula, poin plus untukmu. Tapi jika setelahnya
engkau bergunjing, poin minus untukmu! Lakukan terus perhitungan dengan cara
seperti ini terhadap aktifitasmu sepanjang hari, dan lihat hasilnya di akhir
hari. Kira-kira timbangan harianmu akan berat ke sebelah kanan atau kiri…???”

Tanpa kuperintah, hatiku
tiba-tiba bergetar, mataku berkaca-kaca, mendengar isi ceramah ”anak itu” bulu
kudukku merinding. Bagaimana jika kelak di hadapan Allah timbangan amalku
condong ke sebelah kiri…?! 

”Sebuah buku catatan yang
lengkap, hal-hal yang besar hingga yang sangat kecil sekalipun takkan
terlewatkan tertulis didalamnya. Buku catatan yang merekam setiap ucap kata,
setiap langkah kaki, setiap kedipan mata, dan setiap desiran hati…” anak itu
melanjutkan mengiris-iris hatiku…

Astaghfirullah…!!! ampuni
hamba-Mu ini ya Allah! Hamba-Mu yang telah kehilangan arah dan hanya Engkau
yang bisa membawanya kembali ke Jalan-Mu. Hamba-Mu yang telah gelap hatinya dan
hanya Engkau yang bisa Meneranginya kembali…seperti dulu ya Allah…aku
mohon!

AA

August 31st, 2007 by uzan

hilangnya nikmat shalat,
mengerasnya hati,
tanyakan pada matamu…

AA GYM, kamis malam

BAYI

August 19th, 2007 by uzan

Bayi memang sebuah keajaiban—Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakannya. Daya tariknya sungguh luar biasa. Memandanginya kuyakin takkan membuatku jemu—andaikan aku punya waktu berjam-jam di sampingnya. Bahkan aku ingin lebih: menggendongnya…

“Boleh saya gendong Dimitri, Bu Dini? Bentaaaaaar aja Bu…please!”, mohonku pada ibunda sang bayi.

“Kamu berani Zan? Bapaknya aja belum berani, baru seminggu gitu loh…yakin mau?”, ledek Bu Dini sambil mencibir.

“iya..iya..berani, pelan-pelan ini, aku pernah kok Bu ngegendong bayi kaya gini”, aku berusaha meyakinkan Bu Dini bahwa bayinya akan baik-baik saja di tanganku.

Di pelukanku, aku bisa menatap jelas bayi mungil ini, matanya terpejam, damai, sejuk, tenang…kedamaian dan ketenangan yang tak terasa menular dan mulai merasuki diriku. Ruh yang ditiupkan Allah kedalam dirinya masih murni dan belum tercemari apapun. Bayi berumur 7 hari ini belum terkontaminasi oleh racun-racun duniawi—berbagai ketamakan, egoisme, kesombongan diri, dsb. Kedamaian yang bersumber dari Kesucian Ilahi memancar jelas dari sosok sang bayi. Pancaran Kesucian Ilahi yang kuyakin menjadi daya pikat setiap bayi.

Dengan lembut kubisikkan, “jadi anak yang shaleh ya, yang pinter, yang berbakti ama mama, jangan nakal…”. Penuh harap, doaku kulanjutkan dalam hati, semoga Nur Ilahi yang kusaksikan saat ini bisa terus memancar hingga dewasa. Semoga anak ini bisa dengan pandai menangkal setiap kotoran yang hendak menjajah hatinya. Semoga anak ini bisa—tanpa bosan—membersihkan titik-titik hitam yang lolos dari pengawasannya dan terlanjur bercokol di hatinya.

Semoga kelak anak ini bisa membuat ”perubahan”, bersama anak-anak suci lainnya, dengan menularkan dan menyebarkan Cahaya Ilahi yang terus mereka jaga hingga dewasa, kepada manusia-manusia yang telah lupa bahwa dalam setiap diri mereka pun terdapat Nur Ilahi yang sama. Hanya saja manusia-manusia itu membiarkan begitu saja hatinya jadi hitam-legam tertutupi gundukan dosa… Na’udzubillahi min dzalik…

…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you… :)

Situ Patengan part-II

June 14th, 2007 by uzan

Fiuh…alhamdulillah, sampai apotek masih jam
setengah empat. Duduk, menghela napas beberapa saat, celingukan kaya orang linglung, mungkin masih jet-lag ngebut-ngebutan sepanjang jalan ngejar waktu, hingga
teriakan khas Bu Dini menyentakku: ”woi Zan, baru nyampe nih? Kecapekan ya?!
Hahaha…”

 
Khusus minggu sore itu, 20 Mei 2007, aku memang
sudah izin sebelumnya ke Bu Dini—asisten apoteker yang jaga pagi—bahwa
kemungkinan aku akan terlambat datang. Seharusnya aku yang jaga malam datang
jam dua, namun aku minta toleransi hingga jam empat, jam pulangnya Bu Dini. Karena
hari itu, teman-teman satu angkatanku (Tika, Wisnu, Daus, Ipin, Aldi, Ayu)
ngajakin main ke Situ Patengan…

 
Awalnya aku enggan pake acara main-main segala.
Pikirku, ngabisin duit ga jelas, ngabisin waktu ga manfaat… Uang yang
terpakai seharusnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Waktu
seharian seharusnya bisa diisi dengan aktifitas lain yang lebih positif…

 
Hingga aku sadar, pada setiap bagian ada hak yang
harus dipenuhi. Bukankah yang penting proporsional dan tidak berlebihan?!
Mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri…

 
Setelah selama ini tubuh dan pikianku bekerja
keras setiap harinya, mereka memiliki hak untuk beristirahat sejenak; merasakan
suasana berbeda yang bisa membuat mereka segar—refreshed!!! Mungkin mataku
rindu akan pemandangan lain selain jejeran obat, dinding-dinding apotek, dan
hilir-mudik konsumen yang datang silih berganti. Mungkin kakiku rindu akan
langkah-langkah lain selain hanya bolak-bolik antara ruang display apotek dan
ruang racik. Mungkin mulutku rindu akan celoteh ria dan gelak tawa segar selain
untaian kata menjajakan obat dan melayani konsultasi pasien. Dan hari minggu
itu, kurang lebih seharian, mereka mendapatkannya…

 
Mulai dari kumpul-kumpul awal—pagi—di gerbang
kampus, memulai perjalanan di atas motorku, memasuki daerah pegunungan dengan
hawanya yang dingin dan segar, dan tiba di lokasi. Kami pun mulai berpose di
hadapan kamera dengan berbagai gaya, jalan-jalan luntang-lantung sebentar, lalu mengambil alih penuh satu perahu
(meski ada 2 orang penumpang tambahan, tetap tak merusak suasana), mendayung dengan
gaya amatir (jalan perahu ga pernah bisa lurus!!!), dan tiba di ”Pulau Asmara”
atau ”Batu Cinta”. Puas berpose dan berfoto, kami pun meninggalkan Situ
Patengan dan istirahat untuk shalat dhuhur di masjid Agung Ciwidey, lantas
diakhiri dengan makan siang di warung sate tak jauh dari masjid tersebut.

 
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua
siang. Teringat akan janjiku pada Bu Dini, aku pun tancap gas agar bisa tiba di
apotek sebelum Bu Dini pulang. Stres kembali sedikit melanda, hingga sampai di
apotek tepat waktu dengan sedikit kelelahan. Dengan empat rakaat shalat ashar
dan satu bungkus Tolak Angin cair, tubuhku sudah kembali segar dan siap
bertugas kembali. Namun justru ”segar”-nya hari itu yang menjadi bekalku menjalani
rutinitas hari-hari kedepan dengan ”lebih segar” dari sebelumnya…”satu hari”
yang menyenangkan…rasanya…PUAAASS!!!

 
I
guess I do need refreshing…thx a lot my friends! Kalo ada acara main-main
lagi, please let me know yah…

…life’s just a small step…a step to
meet ALLAH swt Smiling to you… :)

i need you guys…

May 17th, 2007 by uzan

Subhanallah…
Begitu mudahnya hati ini
berubah,
berbalik,
dari mengingatMu
lalu mengkhianatiMu
kemudian mengingatMu
dan kembali mengkhianatiMu

Banyak hal…
lagu Opick barusan,
Fear Factor tadi malam,
obrolan ringan kemarin sore,
hingga sekilas pandang di atas
motorku,
membuatku mengingatMu
sekejap, aku pun
mengkhianatiMu
tanpa kuduga kembali aku
mengingatMu
lantas mengkhianatiMu lagi… 


Mungkin inilah alasan
aku akan selalu
membutuhkanmu, kawan…
Engkau yang bisa
mengingatkanku,
membangunkanku,
menyentil telingaku,
menuntunku,
saat ku lupa
untuk kembali padaNya 


where
r u now?
I
miss u all guys…

sebelum aku KAYA

April 13th, 2007 by uzan

Seringkali
aku geram melihat kelakuan orang-orang yang tamak, para koruptor di koran dan
TV, yang mengeruk uang-harta-kekayaan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan
pribadi. Dan mereka tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya yang sangat
kekurangan; hanya membuat kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin besar.
Aku pun sering berkhayal, kalaulah aku yang memiliki harta berlebih itu, pasti akan
kugunakan ”secukupnya” saja untuk
kebutuhanku, lalu sisanya akan kusedekahkan dan kuinfakkan untuk mereka yang
kekurangan. Toh sekarang sudah banyak badan zakat-infak-shadaqah terpercaya
yang kuyakin bisa menyalurkan harta dari orang-orang yang Allah Karuniai harta
berlebih dengan baik dan sistematis kepada orang-orang yang membutuhkan. Nah,
mungkin masalahnya ada di kata ”secukupnya” di atas…

Interpretasi
kata ”secukupnya” di atas pada setiap individu tentunya bervariasi. Banyak
faktor yang bisa mempengaruhi, seperti: latar belakang keluarga, lingkungan
tempat seseorang dibesarkan, teman-teman dari kecil hingga dewasa, beragam
informasi yang masuk melalui bacaan dan tontonan, tuntutan kebutuhan hidup,
dll.

Misalnya
aku, awalnya sudah cukup puas saat bisa menabung—hasil dari penghematan makan
siangku yang ga boleh lebih dari lima ribu—walau sedikit dari uang jajan
pemberian ibuku, untuk kukeluarkan sewaktu-waktu saat kubutuhkan. Setelah aku mulai
memperoleh penghasilan tambahan dari honor asisten lab atau honor mengajar les
privat, level ”penghematan”-ku pun mulai berkurang; makan siang yang mahalan
dikit gapapa lah… Lebih-lebih sekarang, setelah aku lulus dan bekerja di
perusahaan farmasi internasional, dimulailah belanja barang-barang yang dahulu
menurutku: ”itu mah ga penting, mendingan uangnya ditabung, bisa dikeluarin
untuk hal yang lebih mendesak nantinya, atau lebih baik lagi kalau disedekahin
ama yang minta-minta tuh…” Aku khawatir, jangan-jangan ”khayalan”-ku
diatas—untuk banyak berbuat baik pada mereka yang kekurangan saat aku mulai
bergelimang harta—hanya sebatas khayalan dan takkan pernah menjadi kenyataan…

Hmm…apakah
”kebutuhan” atau ”keinginan” manusia akan selalu berbanding lurus dengan
penghasilan yang diperolehnya??? Semakin besar pendapatan, maka semakin besar
pula kebutuhannya? Ataukah sebenarnya tidak ada ”kebutuhan” yang berubah
(bertambah atau berkurang), hanya saja ”keinginan” baru yang muncul karena
adanya rasa ”keberdayaan”—mampu karena tersedianya uang. Jadi ”apa” yang
mempengaruhi ”apa” disini?

1. Apakah adanya uang yang mendorong
munculnya keinginan-keinginan baru?

2. Ataukah adanya keinginan-keinginan sejak
awal yang mendorong pencarian uang?

Keduanya,
aku rasa, merupakan dua kasus berbeda yang bisa jadi sama-sama benar—masih
harus kurenungkan entah yang mana yang mengalir dalam diriku?! Tapi keduanya
sama-sama membuat tingkat kepedulian terhadap para fakir-miskin yang
membutuhkan uluran tangan dan pertolongan tidaklah berubah—tetap pada level
semula sebelum seseorang memiliki harta berlebih.

Jika
sejak semula sesorang sudah memiliki rasa peduli pada para fakir-miskin, maka
seandainya pertanyaan-1 yang berlaku benar padanya, saat dia beranjak kaya-raya
mungkin akan muncul keinginan-keinginan baru dalam benaknya seperti: meningkatkan
sedekahnya dari yang semula ”seribu rupiah” di setiap perempatan jalan menjadi
”jutaan rupiah” yang dia sebar ke berbagai sekolah sebagai beasiswa atau
panti-panti asuhan atau badan infak-zakat-shadaqah.

Namun
jika sejak semula seseorang sudah tidak peduli dengan kaum yang kekurangan di
sekitarnya, maka seandainya pertanyaan-1 yang berlaku benar padanya, saat dia
kemudian bergelimang harta mungkin berbagai keinginan baru yang muncul adalah: makan
mewah setiap hari, atau menambah koleksi pakaian, atau ”beli mobil ah…”

Yang
lebih dahsyat lagi efeknya adalah pertanyaan-2 jika berlaku benar. Kalaulah ada
orang-orang sejak awal meniatkan untuk membantu para fakir-miskin, maka dapat
dipastikan mereka akan berusaha mencari nafkah sekeras mungkin dan sehalal
mungkin—berusaha tidak sedikitpun merugikan orang lain. Dan setelah rizki mulai
mengalir, sedikit-sedikit hingga menjadi bukit, akan dengan ringan pula mereka
salurkan kepada para kaum papa.

Tapi
sebaliknya, jika pertanyaan-2 berlaku benar kepada orang-orang yang tamak dan
rakus, sejak awal orang-orang seperti ini akan menghalalkan segala cara untuk
mengumpulkan pundi-pundi rupiah—tanpa peduli apakah ada pihak yang terzhalimi
atau tidak. Dan setelah jutaan bahkan milyaran rupiah sukses mereka raup,
segera akan mereka habiskan untuk kepuasan nafsu semata dan membuat jurang
kaya-miskin semakin lebar.

Mumpung
aku belum jadi orang kaya nih, sepertinya aku perlu terus mengasah kepedulianku
akan nasib orang-orang yang kekurangan. Agar tidak ada yang geram melihat
tingkah lakuku, jika kelak aku menjadi orang yang diamanahi rizki melimpah oleh
Allah swt. Amien!

 

…life’s just
a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you…
:)

jualan kondom..?!

April 13th, 2007 by uzan

Kamis
malam, 5 April 2007, jam sepuluh lewat. Apotek akan segera tutup. Di luar
apotek bersama Pak Iwan, aku menunggu Pak Dedi—temanku pulang bareng karena
rumah kami yang searah—yang masih beres-beres di dalam dengan Teh Siti (isteri
Pak Iwan). Kemudian datang sepasang muda-mudi berkendara motor; dari tampang
dan perawakannya aku yakin mereka tidak lebih tua dari usiaku.

Melihat
pintu lipat apotek yang belum tertutup sempurna, si pemuda bergegas masuk
kedalam.
Tapi kemudian dia keluar lagi dan bertanya pada si
perempuan, ”mau rasa apa?”

”Ya
terserah kamu…”, sambil cengangas-cengenges si perempuan menjawab.

Tak
lama si pemuda keluar, sambil bisik-bisik ga jelas mereka pun kemudian pergi…
”Pasti meser ’landong tiris’ nya Pak?”, aku bertanya pada Pak Iwan, mencoba
menebak apa yang baru saja dibeli oleh pembeli terakhir kami hari itu.

”Sigana
mah. Engke tanyakeun we ka Pak Dedi…”, jawab Pak Iwan sambil tersenyum.

”Kira-kira
geus nikah encan Pak, duaan eta?” tanyaku lagi pada Pak Iwan.

”Ah,
encan lah! Paling ge karuliah keneh nu tadi mah,” Pak Iwan menjawab dengan
tegas.

Teh
Siti dan Pak Dedi pun keluar, langsung menutup dan mengunci pintu lipat apotek.
Penasaran, aku pun mengkonfirmasi ke Teh Siti, ”meser ’landong tiris’ nya Teh
nu bieu?”

”Iya
donk, minta rasa dukuh!” canda Teh Siti.

Benar
dugaanku, muda-mudi itu baru saja membeli kondom Fiesta (’landong tiris’ adalah
guyonan kami, para pegawai apotek, untuk menyebut kondom) yang memang tersedia
dalam beraneka rasa. Namun entah mengapa, malam itu aku gusar sekali dan bahkan
geram menyaksikan kejadian ini; pasangan muda yang kuduga belum menikah membeli
kondom!

Untuk siapa? Apa mungkin mereka hanya
disuruh membeli oleh orangtua mereka atau siapapun yang memang sudah resmi
menikah? Ataukah mereka akan mengggunakannya sendiri?
Terus terang,
malam itu aku lebih condong berprasangka buruk pada mereka berdua…aku
berprasangka mereka belum menikah, besoknya adalah hari libur karena tanggal
merah, dan mereka akan menggunakan kondom yang mereka beli agar hubungan seks
di luar nikah mereka berlangsung aman.

Kondom
memang banyak dijual bebas di apotek sekarang ini. Tak peduli yang akan
menggunakan adalah pasangan suami-isteri atau bukan. Kalaulah memang pasutri
yang membeli barang tersebut, apotek berperan positif mensukseskan rencana
pasutri tersebut yang mungkin ingin menunda kehamilan. Tapi jika yang membeli
dan akan menggunakan kondom ini adalah pasangan yang belum menikah, maka apotek
memiliki andil dalam melicinkan suatu tindakan maksiat: zina!!!

Dengan
ini aku pun sadar, bahwa iman dalam dadaku masih berada dalam level terendah.
Karena saat ini, aku tidak bisa menjual kondom hanya pada pasutri saja dan
melarang pasangan yang belum menikah membelinya. Sekarang aku hanya pegawai
apotek yang bekerja pada pemilik sarana apotek. Terlebih lagi mengingat kondom
adalah item ’fast moving’ yang banyak dicari konsumen, rasanya mustahil
mengusulkan pada Sang Bos perihal pembatasan penjualan kondom ini. Bahkan untuk
sekadar ’mengusulkan’ pun aku masih harus ’pikir-pikir’; khawatir Bos tidak
sepakat, dan bahkan sampai marah, untuk selanjutnya memutuskan ikatan kerjasama
ini.

Akhirnya
aku hanya bisa memendam dalam hati gundah dan geram ini. Berharap setiap
pembeli yang mencari kondom adalah pasangan resmi suami-isteri. Dan kalaulah
aku terpaksa menjual pada pasangan muda—yang lagi-lagi kuduga belum menikah,
aku hanya bisa mendoakan mereka agar segera insyaf dan bertobat sebelum
terlambat.

Rasanya
semakin bernafsu saja untuk segera memiliki sendiri apotek pribadi (Amien, Ya
Allah..!). Kelak, kondom di apotek kepunyaanku takkan kupajang di ’display’ di
depan; kondom akan kusembunyikan di belakang sehingga orang yang hendak membeli
kondom harus bertanya terlebih dahulu. Kalau kira-kira orang tersebut sudah
menikah, kondom jenis apapun yang dia minta akan segera kuambilkan. Tapi jika
sekiranya pembeli adalah anak muda yang belum menikah, dengan mudah bisa kusampaikan:
”maaf Dik, lagi kosong. Mungkin di apotek ’anu’ ada…” Sambil kucantumkan
kutipan ayat Al-Qur’an, Q.S. Al-Israa’ ayat 32, di katalog kondom yang akan
kusediakan di apotekku: ”Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji  dan suatu jalan yang buruk.”

 

…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you… :)

lempar!!!

March 25th, 2007 by uzan

Suatu
sore di sekitar perpustakaan Labtek VII ITB, aku dan sahabat terbaikku, Ridha
Agung, sedang duduk-duduk santai. Kemudian dia mengoreh-ngoreh kertas bekas
dari dalam tasnya, mengambil salah satu lalu meremasnya hingga berbentuk
gumpalan bola.

Ridha : “Zan, kamu siap-siap ya… pokonya nanti
aku nyuruh kamu sesuatu, trus kamu jangan kebanyakan mikir. Langsung aja
laku’in apa yang aku suruh! Siap ga?!”

Aku :
(terbingung-bingung..)
“Apaan sih Dha? Kamu mau nyuruh apaan
emang?”

Ridha :
”Udah, pokonya kamu siap-siap ngerja’in apa yang bakal aku suruh entar ya!
Ngga bakal aku suruh macem-macem kok. Siap
ga?”

Aku :
(masih dalam bingungku) ”Mo ngapain
sih?!
Iya lah, aku siap
aja…”

Ridha :
”Nah, sekarang kamu pegang kertas ini, terus sekarang: LEMPAR!”

Aku :
(kaget ngerangkep bingung) ”Hah?!
Lempar??? Maksudmu? Lempar kertas ini? Kemana?”

Ridha :
”LEMPAR!!!”

Aku yang terbingung-bingung mulai berpikir.
Kulempar kemana ya kertas ini?! Hmm, karena kertas ini kertas bekas, sebaiknya
kubuang saja ke tempat sampah. Setelah lewat beberapa detik sejak perintah
Ridha terlontar, aku pun segera melempar dengan keras bola kertas tersebut ke
tempat sampah di depanku. Namun karena terburu-buru, lemparanku kurang sempurna,
terlampau keras dan kertas itu pun jatuh ke samping tempat sampah.

Ridha :
”Bagus.
(Ridha mengambil kembali bola kertas tersebut) Sekarang, kamu pegang lagi kertas ini,
terus: LEMPAR KE DADAKU!”

Aku :
”Hah?! Maaf ya Dha!
Ini
kamu yang minta lho…” (tanpa pikir
panjang, seketika aku langsung melempar bola kertas tadi tepat ke dada temanku
itu)

Ridha :
”Nah, kerasa engga bedanya?
Antara lemparan pertama ama lemparan kedua? Sebenernya keliatan jelas lho.”

Aku :
”Hmm, maksudmu? Oooh, di lemparan pertama aku sih kebingungan, mikir dulu,
terus buru-buru gitu ngelemparnya. Mungkin karena ngerasa udah kelamaan mikir,
sementara tadi kan kamu nyuruhnya cepet-cepet. Tapi kalo di lemparan kedua, kayanya
aku langsung ngelempar tanpa ragu deh, tepat pula di dadamu! Hehe, maaf ya
Dha..”

Ridha :
”Ya. Di lemparan pertama, perintahku ngga jelas, ga ada target lemparan yang
aku sebutin. Jadinya kamu bingung, mikir dulu beberapa detik, setelah kamu memutuskan
kamu baru mulai melempar, tapi itu pun engga tepat masuk tong sampah kan?!
Karena sebenernya kamu masih bingung harus ngelempar kemana. Itu yang bikin
lemparan kamu ga tepat sasaran, karena kamu masih bimbang dengan target atau
sasaranmu, ditambah tuntutan untuk segera ngelakuin apa yang aku perintahin!
Jadi di lemparan pertama kamu engga punya TARGET atau FOKUS sasaran.”

Aku :
”Iya juga sih…”

Ridha :
”Tapi berbeda dengan lemparan kedua.
Karena perintahku cukup jelas, lemparanmu yang kedua pun
tepat sasaran. Ini dikarenakan seluruh tubuhmu, saat itu, memiliki kesamaan
tujuan. Koordinasi mata dan otot-otot tanganmu berjalan baik karena perintah
dari otakmu sangatlah jelas, sehingga energi yang kamu keluarin juga secukupnya
aja tapi efektif. Padahal jarakmu ke tong sampah itu ama jarakmu ke aku kan ga
beda jauh barusan.”

Aku :
(tersenyum simpul) Ya..ya..terus
maksudmu apa Dha?! Pasti ada yang mau kamu sampe’in kan…?!”

Ridha :
”Saat ini, kamu udah tau TUJUAN hidupmu ato belum? Apakah cuma sampe lulus S1
doank? Atau lulus apoteker? Atau tujuan hidupmu lebih jauh dari itu: harta yang
melimpah, tahta atau jabatan yang kokoh??? Nah, kalau kamu masih bingung dengan
TUJUAN AKHIR hidupmu, saranku: cari PERINTAH yang jelas dari Al-Qur’an dan
Hadits. Biar kamu bisa start untuk FOKUS dalam hidup, engga malah bingung kaya
ngelempar bola kertas barusan.
Sebaiknya segera, jangan kelamaan, karena umur kan rahasia Allah. Goodluck!
Aku pergi dulu ya, ada janji nih di selasar lantai-2… wassalamu’alaikum
wr.wb.”

 

 

…life’s just a small step…a step to meet
ALLAH swt Smiling to you…
:)